Anak Sekolah Dasar Semakin Mudah Brutal ?

13-10-2014

Baru-baru ini sedang ramai di televisi pemberitan tentang seorang siswi Sekolah Dasar yang dianiaya beramai-ramai oleh beberapa siswa satu sekolahnya. Lebih parahnya lagi, penganiayaan itu dengan sengaja direkam oleh salah satu siswa pelaku sambil terus “memanas-manasi” teman-temannya.
Terenyuh hati ini melihat kejadian itu, terbayang anak perempuan saya yang dua tahun lagi akan masuk Sekolah Dasar. Akankah hal yang sama akan menimpa anak perempuan saya? Atau mungkin akan menimpa anak-anak yang lain? Jika berita penganiayaan itu melibatkan anak setingkat SMA mungkin saya tidak terlalu risau, meskipun hal itu juga merupakan kejadian yang patut disayangkan jika terjadi. Tapi ini melibatkan anak-anak Sekolah Dasar. Yang seharusnya masih lebih banyak berpikir tentang bermain. Ada yang salah kah? Atau hanya kebetulan? Atau sebenarnya sebuah fenomena gunung es?

Ada yang bilang itu kelalaian guru yang bersangkutan. Namun banyak juga yang bilang mungkin anaknya memang sulit diatur karena orang tuanya kurang bisa mendidik. Sebagian lagi bilang itu hanya kenakalan biasa yang kebetulan terekan oleh kamera HP. Apapun argumen yang muncul akibat peristiwa itu sebenarnya tidak terlalu penting, karena yang paling penting adalah bagaimana mencegah jangan sampai kejadian tersebut terulang kembali. Jangan sampai suasana sekolah menjadi suasana perang yang mencekam karena rasa dendam atau rasa ketakutan terhadap teman sendiri. Jangan sampai anak Sekolah Dasar semakin mudah brutal.
Tidak mudah memang untuk bisa membenahi hal itu semua, tidak semudah membalik telapak tangan. Banyak pihak yang harus mau terlibat langsung, mulai dari peran orang tua dan keluarga dirumah, guru sebagai pendidik, dan pemerintah sebagai pengawas dan pembuat regulasi. Selain ketiga elemen itu, hal paling penting sebenarnya adalah memahami kondisi mental anak-anak Sekolah Dasar kita terkait dengan beban belajar yang diberikan kepadanya. Mengapa demikian? Karena pada dasarnya tidak ada anak nakal, yang ada hanya orang dewasa yang tidak bisa atau sulit memahami dan membantu mengarahkan anak tersebut.

Pasti ada alasan atau cerita yang melatarbelakangi kejadian penganiayaan terhadap sesama teman sekolah seperti kejadian baru-baru ini. Naluri berontak atau berbuat kekerasan hanya muncul jika seorang anak merasa terancam atau sangat tidak nyaman dengan keadaan yang dialaminya. Jika merasa tidak nyaman dan terancam berarti ada sesuatu yang belum benar dengan kondisi lingkungan sekolah tempat anak belajar atau juga lingkungan keluarga tempat tinggal anak tersebut. Kondisi yang tidak nyaman juga berpotensi memicu sikap tidak hormat dan tidak patuh murid kepada guru mereka. Memecat guru yang dianggap lalai dengan tugas dan tanggungjawabnya mungkin hanya solusi jangka pendek yang tidak menyentuh pada dasar persoalan. Persoalan tentang mudahnya kebrutalan terjadi di anak-anak kita di Sekolah Dasar. Tindakan ini juga berpotensi menjadikan murid merasa tidak bersalah dan menimpakan semua kesalahan pada kelalaian sang guru. Jika demikian, semakin sulit rasanya membentuk karakter yang baik pada anak-anak kita di Sekolah Dasar.

Saya jadi teringat masa-masa di Sekolah Dasar tahun 1980-an. Dimana saat itu kami begitu patuh dan takut kepada bapak dan ibu guru. Sentilan dan jeweran di telinga sudah jadi hal biasa dan sanggup kami terima jika melakukan kesalahan atau melanggar peraturan sekolah. Bahkan pukulan penggaris kayu ukuran 1 meter di punggung pun siap kami terima tanpa rasa dendam karena kami sadar itu semua demi kebaikan kami. Toh, bapak dan ibu guru tidak akan menghukum, bahkan memuji, jika kami berbuat baik dan patuh pada peraturan sekolah. Jika ditanya apakah sakit dihukum secara fisik, tentu jawaban kami pasti sakit. Mau lapor orang tua sepulang sekolah? Saya yakin, hampir semua anak sekolah jaman 1980-an tidak akan melaporkan kejadian atau hukuman yang diterimanya disekolah kepada orang tuanya jika tidak ingin mendapatkan bonus hukuman dari orang tua (termasuk saya).

(Dikunjungi 85 kali, 1 pengunjung hari ini)

Coretan Lain



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anti Spam *