Dibalik Pilpres 2014

18-07-2014

Ada yang sedikit berbeda dengan Pilpres 2014 kali ini bila dibandingkan dengan Pilpres sebelum-sebelumnya. Terasa sekali peran dan partisipasi masyarakat bahkan WNI yang ada di luar negeri sangat antusias dalam Pilpres 2014 ini. Oke lah, kesampingkan sejenak tingginya partisipasi masyarakat Indonesia, kali ini yang ingin saya lihat adalah mengapa antusiasme dan partisipasi masyarakat naik signifikan dibandingkan dengan Pilpres sebelumnya.

Satu hal yang menarik bagi saya adalah bahwa pencitraan yang paling efektif (jika hal tersebut dianggap pencitraan) adalah lakukan dan buktikan kemampuan anda dengan cara bekerja dengan baik, jujur, dan benar kepada masyarakat. Dan yang pasti hal itu bukan barang isntan, bukan melalui media koran atau televisi atau media online yang dilakukan ketika mendekati waktu pemilihan, dan bukan hanya kepada segolongan masyarakat tertentu.
Lakukan sesuatu (yang positif dan membangun, juga jujur) bagi bangsamu, maka masyarakat Indonesia (yang kini sudah semakin peduli dengan bangsa) akan dengan senang hati dan sukarela mendukungmu. Bukan dengan uang tapi dengan tindakan nyata yang menyentuh langsung masyarakat secara umum, bukan masyarakat tertentu yang sengaja dipilih yang mempunyai pamrih.
Biasakan dirimu menjadi pemimpin dan berada dalam jangkauan mereka (masyarakat), tidak harus menjadi Bupati atau Walikota, tapi harus jujur dan mengena dalam aktivitas kemasyarakatanmu. Tidak harus langsung dalam skala yang luas dan besar, karena yang besar itu berasal dari yang kecil. Semakin lama bersinggungan langsung dengan masyarakat maka akan semakin mengerti sosok pemimpin apa yang dikehendaki oleh masyarakat. Meskipun pada dasarnya masyarakat pasti menginginkan pemimpin yang jujur, adil, bijaksana, dan bisa membawa Indonesia menuju ke yang lebih baik.

Nah, sekarang tinggal menunggu pengumuman dari KPU siapa yang menjadi Presiden RI berikutnya. Pesan saya adalah satu nasi pecel dan es teh manis, eh… Pesan saya dan mungkin pesan kita semua yang terpilih jadi Presiden jangan “jumawa” dan yang gagal harus “legawa”. Bagi yang terpilih, saatnya membuktikan kemampuan untuk memimpin bangsa dan negara ini, dan yang gagal saatnya membuktikan jiwa besar yang dimiliki. Jika memang peduli dengan bangsa dan negara, membangun bangsa ini tidak harus dengan menjadi Presiden. Menjadi Presiden hanyalah bonus (dari masyarakat) dari apa yang sudah seseorang lakukan bagi bangsa dan negara dalam jangka waktu yang tidak sebentar, dan pasti hal itu butuh banyak perjuangan dan pengorbanan.

(Dikunjungi 29 kali, 1 pengunjung hari ini)

Coretan Lain



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anti Spam *