Mengapa Saya Setuju Dengan Penghapusan LKS

18-10-2016

Penghapusan LKS

Tanpa sengaja pagi ini melihat berita di salah satu TV swasta yang memberitakan bahwa Menteri Pendidikan berencana untuk melakukan penghapusan LKS dan Pekerjaan Rumah bagi siswa sekolah. Tentang penghapusan pe-er ini mungkin mengadopsi pola pendidikan di Finlandia yang sudah kesohor itu, tentu dengan harapan bisa memberikan waktu lebih banyak bagi anak-anak generasi penerus bangsa untuk lebih bisa mengeksplor bakat, minat, dan kecerdasannya masing-masing diluar program sekolah yang sudah dijalaninya.
Sementara terkait dengan penghapusan LKS atau Lembar Kerja Siswa, ada sesuatu hal yang membuat saya tergelitik untuk menulis kali ini. Pikiran saya langsung menerawang, teringat pertama kali mengenal LKS ketika duduk di kelas 6 SD Hang Tuah X di Juanda Sidoarjo. Waktu itu tahun ajaran 1988/1989 bertepatan dengan diterapkannya metode belajar CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) menggantikan pola belajar sebelumnya. Saat itu pula saya ingat pertama kali mengenal LKS, sebuah buku sekali pakai yang wajib dimiliki oleh pelajar.

Bersamaan dengan penggunaan LKS cara saya dan teman-teman di sekolah dalam belajar juga mulai berubah. Pola CBSA menggiring kami untuk membentuk kelompok-kelompok kecil dalam belajar, lebih banyak berdiskusi dengan teman sementara Guru lebih sebagai pendamping. Cara belajar yang menurut saya lebih seru dan mengasyikkan (karena bebas ngobrol) ketika jam pelajaran sedang berlangsung. Dan waktu itu sama sekali tidak pernah terpikirkan apa dan bagaimana LKS itu, hanya senang karena tidak capek lagi harus menulis ulang soal di buku tulis, dan cukup menjawab singkat setiap pertanyan yang tertulis di buku LKS itu.
Belakangan, ada hal yang mengganggu pikiran saya terkait LKS, meskipun saya juga pakai LKS sampai dengan lulus dari SMA Negeri 16 Surabaya. Ya, menggangu dan mengganjal pikiran dalam paling tidak untuk beberapa hal berikut.

Pertama, LKS itu buku boros dan hanya sekali pakai. Buku yang tidak bisa diwariskan ke adik kelas karena biasanya jawaban langsung ditulis dibuku LKS itu, demikian juga nilai dari guru. Kalaupun diwariskan hanya untuk disontek jawaban-jawaban yang ada. Itu pun dengan catatan LKS tahun ajaran berikutnya tidak ada perubahan soal.
Sangat berbeda dengan pengalaman saya kelas 1 sampai kelas 5 SD ketika masih secara konvensional menulis pertanyaan dan menjawab di buku tulis dari soal-soal yang ada di buku paket. Saya masih mengalami buku paket warisan dari kakak kelas dan adik kelas saya juga masih bisa menggunakan buku yang sama. Masa itu saya pastinya tidak pernah berpikir berapa biaya yang dikeluarkan oleh orang tua untuk membeli buku. Tapi sekarang setelah menjadi orang tua, biaya-biaya buku sekolah anak sudah tentu menjadi bagian dari hal yang wajib dipikirkan.

(Dikunjungi 77 kali, 3 pengunjung hari ini)

Coretan Lain



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anti Spam *